yugzzzz's Site

Blog Entryali sadikin May 23, '08 3:18 AM
for everyone
Dia Seperti Hatta
Emoh di Kalibata


Blog Entryapa kata dunia?Apr 28, '08 2:51 AM
for everyone

Naga Bonar bakal diputar ulang di bioskop.  Ini buntut kesuksesan naga bonar 2. Butuh proses panjang, sebelum film paling fenomenal di penghujung 80-an itu, disaksikan generasi kini. Dedy Mizwar, mengeluarkan biaya tak sedikit agar  Naga Bonar, nyaman di tonton. Pita seluloid yang lama tersimpan dibersihkan dari jamur.  Studio editing di Kemang, bertanggungjawab mengembalikan warna film, sound effect, hingga melakukan sulih suara di beberapa bagian film yang kondisinya amat memperihatinkan itu. Kabar terakhir, Naga Bonar terbang ke Thailand untuk proses Dolby Stereo. Rencananya Naga Bonar diputar di layar putih 8 Mei mendatang. Lantas, akankah  suara  si Naga kembali menggema?

            Film ini di masanya menangguk sukses. Apalagi kondisi film Indonesia waktu itu,  tak terlalu menggembirakan, istilahnya lesu. Skenario film ini merupakan salah satu  master piece dalam sejarah layar perak negeri ini. Siapa yang tak ingat pada kalimat: Bujang, sudah kubilang jangan kau berperang, perang juga kau,  matilah kau, atau Apa Kata Dunia? kalimat yang dipopulerkan kembali Departemen Pajak untuk menggenjot pendapatan pajak negara.

Naga Bonar si Raja Copet, yang mengangkat dirinya sendiri sebagai Jenderal. Dan dengan seenaknya memberikan pangkat pada para anak buahnya. Jenderal yang tak takut pada apapun, kecuali ibunya. Meski raja copet,  rasa nasionalismenya tinggi,  Tak punya kompromi mengganyang sang penjajah, Belanda. Naga juga santun pada wanita, dan marah jika anak buahnya, berlaku semena-mena pada kaum hawa, Lukman si Kolonel diturunkan pangkatnya menjadi kopral, hanya gara-gara menghamili Fatimah.

Ini adalah film perjuangan yang jauh dari propaganda. Film berlatarbelakang perjuangan yang tidak menampilkan sosok heroik, namun mengguncang rasa kebangsaan kita. Karena tidak heroik itulah Naga menjadi populer. Apalagi waktu film itu diputar, terlalu banyak pahlawan dan jenderal Orba dengan kisah kepahlawanan yang memukau di buku-buku sejarah. Seolah tanpa jasanya negeri ini tak pernah merdeka.

Skenario Asrul Sani mengendap puluhan tahun, sebelum difilmkan. Asrul pernah berucap, yang cocok memerankan naga Bonar adalah almarhum Soekarno M Noer, ayah rano Karno. Naga dalam benak Asrul, bertubuh pendek dengan wajah jauh dari ganteng. Dan bila berjalan, ujung samurainya menyentuh tanah. Asrul, menurut pengakuan MT Risyaf, sutradara film tersebut, menolak tokoh Naga Bonar diperankan Dedy Mizwar. Dedy terlalu ganteng.  Namun Risyaf bersikeras. Wajah Dedy pun dipermak. Selama syuting Dedy menggunakan cetakan gigi, agar rahangnya terlihat lebih lebar. Menurut Dedy  alat itu begitu menyiksa. Gusinya luka, mulutnya sariawan. Toh pengorbanannya tak sia-sia. Predikat aktor terbaik disandangnya pada Festival Film Indonesia. Para kritikus film pun menilai itulah puncak pencapaian aktingnya sebagai aktor.

Sayang, Risyaf tak diganjar penghargaan apapun, masuk nominasi Piala Citra saja tidak. Mungkin orang beranggapan skenario Asrul sudah begitu dahsyat hingga siapapun sutradaranya, pasti berhasil, karena almarhum, begitu rinci menggambarkan adegan demi adegan.

Pada sebuah percakapan di studio editing di Kemang Raya, Dedy menyatakan kehadiran kembali Naga, lebih dari sekadar re-master Naga Bonar. Dia berharap, pesan mulia dalam film ini dapat ditangkap generasi sekarang, yang dinilainya sudah jauh dari rasa Ke-Indonesiaan. Semoga saja asa itu menjadi kenyataan.

Ketika dibuat, Naga Bonar merupakan salah satu film yang menggunakan suara langsung. Di masanya, hanya sedikit yang berani melakukan itu. Sekarang, Naga Bonar muncul dengan gebrakan baru, film pertama di Indonesia  yang dirilis kembali dengan pewarnaan baru, dan merombak tata suara menjadi stereo. Efek suara pun ditambah biar menjadi dramatis. Upaya kerja kerasa Dedy patut dihargai. Dan jika ini berhasil tidak tertutup kemungkinan film-film lawas bakal mengikuti jejak Naga Bonar. Tapi bagaimana jika tidak? Dedy Mizwar berupaya  menyelamatkan harta karun arsip film nasional. Sekadar informasi,  kondisi seluloid Naga Bonar ketika ditemukan, sangat memperihatinkan, padahal usia film belum dua puluh tahun. Kebayang ‘kan kondisi film-film bersejarah lainnya yang berusia lebih dari itu? Apa Kata Dunia?  

 

 

 

 

 

 

 


Blog EntrySBY dan Ayat-ayat CintaApr 25, '08 12:45 PM
for everyone

Hidup kian mencekik batang leher. Harga kebutuhan pokok membumbung tinggi. Minyak tanah, gas, kedelai, menjadi barang langka. Dampak sosialnya sungguh mencengangkan. Salah satu koran harian terbitan Jakarta, beberapa hari lalu memuat berita makin banyaknya orang stress. Rumah penampungan sakit jiwa di Bekasi, kewalahan menerima banyaknya orang tak waras. Dan yang bikin miris bukan di mana anakku, di mana anakku  yang diocehkan, tapi tempe makin mahal, tempe makin mahal. 

Dampak sosial akibat melambungnya harga-harga kebutuhan bahan pokok bakal lebih panjang lagi. Tapi di tengah ketidakpastian hidup dan carut marutnya ekonomi, ada juga kabar baik. Paling tidak menjadi penawar atau pelarian dari segunung masalah yang kini melilit kita.

Lagu-lagu cinta  menjulang, sinetron-sinetron penjual mimpi tambah gemuk ratingnya, dan terakhir adalah fenomena film Ayat-ayat Cinta (AAC). Hingga kini tak kunjung habis dibicarakan. Dari rekor jumlah penonton dan keuntungan yang diraupnya. Produser AAC Manoj Punjabi, sudah berencana untuk membuat versi panjang film itu, dengan menambah adegan-adegan penting yang terlewatkan dari novel Habiburrahman El-Shirazy itu.

Tak hanya warga biasa yang menonton AAC di gedung bioskop. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), mantan Presiden BJ Habibie dan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga terpikat dengan AAC. Bahkan presiden kita tercinta, mengajak 80 duta besar nonton bersamanya. Mungkin SBY bangga, ada anak negeri yang mampu membuat film sebagus itu. Bukan kebiasaan Pak Presiden menonton film. Apalagi nonton AAC setelah wakil presiden menjejakkan kaki di karpet merah gedung bioskop beberapa hari sebelumnya. Mungkin SBY tertarik promosi JK, atau saking populernya film ini, serasa nggak enak bagi presiden tidak ikut nonton, hingga kesannya kurang up to date. Tapi bisa juga SBY merasa wajib nonton, karena takut  dianggap tidak mengapresiasi film selaris dan paling fenomenal buatan Indonesia di awal tahun 2008 ini.

Di masa duet kepemimpinan JK dan SBY ada beberapa film yang juga cukup fenomenal dan dipuja banyak kritisi, seperti Naga Bonar Jadi 2. Film ini dianggap sukses karena menyampaikan pesan moral dan kritik pada penguasa, meski kritik yang disampaikan tak telak sebagaimana Naga Bonar 1. Tak ada para petinggi negara yang hadir, kecuali Gubernur DKI yang saat itu dijabat oleh Sutiyoso. Naga Bonar jadi 2 bertahan lama di jaringan bioskop. Mungkin saat itu,  tugas kepresidenan sedang penuh, dan kondisi rakyat tengah merihatinkan.  Sementara di tahun 2008 agak longgar.

SBY memang memiliki jiwa seni tinggi. Sebelum menjadi presiden, SBY sudah memperdengarkan kemerduan vokalnya lewat lagu andalan grup Jamrud, Pelangi di Matamu. Setelah menjabat presiden, jiwa senianya kian menggelagak. SBY menciptakan lagu dan lirik. Hasilnya sebuah album. Lagu-lagu ciptaan orang nomor satu republik ini diberi judul Rinduku Padamu yang terdiri atas 10 lagu termasuk di antaranya lagu berjudul Rinduku Padamu yang dinyanyikan oleh Ketua Pappri Dharma Oratmangun, Kasih (Gee Foregia), Mengarungi Keberkahan Tuhan (Ebiet G Ade), Hening (Widi Mulia), Selamat Berjuang (Dea Mirella), Kawan (Kerispatih), Mentari Bersinar (Seno Haryo).

Tak sampai di situ, parade senja pun kembali dihidupkan. Penurunan bendera merah putih di Istana Negara saat matahari tergelincir di barat. Tapi kali ini ada nilai hiburan yang dijunjung dalam rentetan acara itu, antara lain dilantunkannya karya-karya SBY, serta menghadirkan artis-artis top ibukota.   

Rakyat memang butuh hiburan, sejenak melupakan lapar yang menggerogoti lambung, uang yang tak lagi cukup untuk menghidupi keluarga sehari-hari dan mimpi-mimpi yang tak lagi nyaris terbeli. Menyanyi menyehatkan jiwa, tapi lapar menyiksa tak bisa disembuhkan dengan nyanyian, semerdu apapun dan sebagus apapun liriknya. 

Perut lapar ya makan. Haus ya minum. Mahatma Gandhi, pemimpin kharismatik India pernah mengucap soal pemimpin yang baik di matanya: I suppose leadership at one time meant muscles; but today it means getting along with people. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berdiri bersama rakyatnya. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang merasakan kesulitan dan kepedihan rakyatnya. 


Blog Entrycinta meluluApr 25, '08 12:41 PM
for everyone
Oh oh... 
Lagu cinta melulu
Kita memang benar-benar melayu
Suka mendayu-dayu
Apa memang karena kuping melayu
Suka yang sendu-sendu
Lagu cinta melulu

(Cinta Melulu-Efek Rumah Kaca)

 

            Dunia musik negeri ini, disesaki lagu mengharu biru. Harmoni yang mendayu dan larik-lirik berkutat pada pahit, manis, getir cinta. Para pengusung gaya musik ini, cepat meroket. Dari Drive, Republik, Kerispatih, Kangen dan banyak band lainnya, dengan lagu yang sama melenakan para pendengarnya. Selama masih laku, industri musik pun mematok band atau solis binaannya agar tak lari dari tema tersebut. Makanya bila ada band atau solois lain yang mampu merangkai kata lebih dahsyat lagi soal cinta, band lama dilupakan. Tak bisa dibantah sepanjang tahun 2007, perkembangan industri musik kita cukup mencengangkan. Memang mempesona tapi menjemukan. Makanya ketika mendengar lagu Cinta Melulu dari band bernama Efek Rumah Kaca, kesadaran saya terusik. Paling tidak kelompok musik yang keberdaannya sulit dilacak itu, merasakan kegelisahan yang sama:  miskinnya tema lagu-lagu anak negeri.

 

Pada awal munculnya, The Beatles juga beranjak dari cinta. Dan liriknya tak lebih dari You, Me, And I. Namun seiring bertambah umur mereka, John cs mencoba lebih menyerap apa yang sedang terjadi di sekelilingnya. Mencoba mengeksplorasi tak hanya lirik tapi juga bunyi. George Harisson bahkan mencari bebunyian hingga ke Timur, menggali kebijakan-kebijakan yang terserak di sana. Setelah meninggalkan era cinta, Beatles pun kian berkibar.

 

Padi mencoba dewasa setelah album kedua. Tapi justru ditinggalkan pemujanya. Pejualan album tersebut, tak sebaik yang pertama. Piyu pernah berkata pada saya, sang produser memintanya kembali mendayu. Bahkan kalau bisa mirip Samsons. “Gue bingung,” katanya sambil menenggak minuman ringan di salah satu kafe di Jakarta.

 

Pertemuan itu tiga tahun lalu. Saya pernah berharap, Piyu bisa bertahan pada idealisme. Aplagi dia mencoba membentuk pasar baru, meninggalkan pasar yang sesak dengan irama pelet yang membuai gendang telinga. Tapi harapan saya buyar, ketika dia menjadi produser Drive. Namun di album barunya Piyu cs berusaha membayar dengan tak berkutat pada tema cinta.

 

Iwan Fals pun ikut arus. Musisi yang pernah menjadi favorit banyak orang. Wakil dari suara yang terpinggirkan. Musisi yang bisa merasakan denyut kegelisahan sekelilingnya. Musica Studios, tempat Iwan bernaung juga membaca arah angin. Jika Iwan masih berkutat pada lirik sosial, kemungkinan bisa gagal. Makanya Iwan ikut terjebak dalam kubangan cinta, rumitnya asmara sepasang kekasih. Bukan Iwan tak pernah bikin lagu cinta, dia justru luar biasa dalam tema seperti ini. Termasuk albumnya yang begitu manis saat berkolaborasi dengan Agus AA di era 80-an. Tapi itu untuk menghindari represi kritik dalam berbagai bentuk. Atau jangan-jangan  kepekaan Iwan mulai tumpul?

 

Dia kini sudah begitu mapan. Mungkin kegelisahan telah meninggalkannya, atau imaji-imaji lasak tak lagi bersemayam? Untung Iwan masih peduli, dia menjadi duta lingkungan. Tapi yang amat disayangkan, lagu yang dijadikan tajuk kampanye lingkungan tersebut: “Ini Bukan Mimpi, karya orang lain.

 

Iwan memang tidak lagi mengendarai Chevrolet bututnya, tapi mobil Eropa  yang begitu nyaman. Tidak lagi merasakan lubang di jalan, keringat yang membasahi tubuh karena macet yang menggila. Rumahnya di Leuwinanggung begitu besar dan nyaman. 

 

Iwan pernah begitu merindukan Rendra, saat Si Burung Merak tak lagi berteriak pada ketidakadilan dan kejamnya pembangunan memberangus jiwa-jiwa merdeka. Iwan menyentil Rendra di lagu bertajuk Willy, salah satu syairnya berbunyi, Si anjing liar dari Jogjakarta,  apa kabar  mu.  Kini kerinduan yang sama menyergap saya  Si anjing liar dari Leuwinanggung, apa kabar mu?

              Semua orang pernah merasakan jatuh cinta, diselingkuhi, hingga patah hati yang begitu menyiksa. Tapi toh hidup tak cuma itu. Lagu-lagu sekarang, nyaris tak lagi mampu merekam apa yang tengah dirasakan masyarakatnya. Atau memang ini potret penikmat musik di negeri ini? Yang tak juga pekak pada elegi cinta dan perselingkuhan. Lagu Efek Rumah Kaca lagi-lagi mengalun: Nada-nada yang minor, lagu perselingkuhan, atas nama pasar semuanya begitu klise, elegi patah hati, ode pengusir rindu, atas nama pasar semuanya begitu banal.

Blog EntryWakil Rakyat vs Rakyat Apr 22, '08 11:35 AM
for everyone

            Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang terhormat panas telinganya. Lagu Slank Gosip Jalanan, dianggap tidak patut, dan dinilai mencoreng lembaga legislatif tersebut.  Bahkan wakil ketua badan kehormatan DPR, Gayus Lumbuun kabarnya sudah siap menggugat. Langkah Gayus surut, ketika Rabu dinihari, anggota dewan dari fraksi Partai Persatuan, Al Amien Nasution, ketangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di sebuah hotel mewah di selatan Jakarta. Suami pedangdut Kristina itu,  menerima duit puluhan  juta dari sekretaris daerah Bintan Kepulauan Riau, guna memuluskan langkah pengalihan fungsi hutan lindung. Lagu Gosip Jalanan  Slank pun menjadi kenyataan: Mau tau gak mafia di senayan? Kerjanya tukang buat peraturan Bikin UUD ujung-ujungnya duit. Bayangkan jika DPR jadi menggugat lagu band asal gang potlot tadi? Kian amblas saja akal sehat bangsa ini. Bagaimana mungkin wakil rakyat menggugat rakyat yang jelas- jelas diwakilinya. Para wakil yang seharusnya berfikir untuk mensejahterakan rakyat? dan tak bisa tidur jika pemerintah tak juga meningkatkan kualitas hidup ratusan juta penduduk Indonesia. Tapi kenyataannya? Jauh panggang dari Api.

Gayus menganggap Slank terlalu berlebihan dalam menggambarkan DPR, dia berharap kritik itu disampaikan dengan santun. Suara sumbang  terhadap anggota dewan,  sering menggedor  gerbang Senayan. Dari kritik halus hingga kasar, tapi toh berita soal korupsi tak juga surut, malah kian menggila. Padahal baru saja kita dikejutkan dengan uang insentif dari bank Indonesia yang dikucurkan demi memfasilitasi aktifitas anggota dewan,  berpelesir ke luar negeri, hingga biaya pengobatan, eh kini kita malah disodori kenyataan baru bobroknya mental kebangsaan anggota DPR,  fungsi hutan lindung diperjualbelikan. Slank adalah orang kesekian yang mempertanyakan korps orang pilihan itu. Lantas masih kah harus santun, kalau kritik masuk kuping kanan keluar kuping kiri, dan nyaris tidak ada  ada perbaikan?

Kritik memang sempat tabu di negeri ini. Sekumpulan kalimat yang mempertanyakan penyelenggaraan negara diberangus. Tapi tak sedikit yang nekat dengan sisa nurani yang ada, mempertanyakan hegemoni kekuasaan. Lirik bernada  sindiran atau sarkasme dalam lagu,  bukan barang baru. Tahun 1979, almarhum Mogi Darusman merilis album bertajuk Aje Gile. Salah satu lagunya yang bikin penguasa merah telinga adalah Rayap-rayap: Kau Tahu rayap-rayap, makin banyak di mana-mana.....Dibalik baju resmi, merongrong tiang negara. Mereka dengan tenang memakan kota dan desa.....Lagu itupun sempat tak boleh diperdengarkan lagi. Almarhum Harry Roesli, juga kerap pedas menyuarakan keresahan rakyat. Di hari kemerdekaan Indonesia yang ke 55 dia membuat lagu Sialan. Berbalut nada blues Harry bernyanyi: Sialan mau sekolah aja susah, katanya wajib belajar agar otak  jadi pintar. Bagaimana bisa pintar kalu yang pintar nggak punya otak.  Kita juga punya Iwan Fals,  penyanyi balada yang begitu cerewet mempersoalkan ketidakadilan akibat penyelenggaraan negara yang melulu memikirkan kepentingan pribadi ketimbang rakyat. Tahun 1987 Iwan juga menyinggung  lembaga legislatif melalui lagu Wakil Rakyat. Lagu itu lebih dari sekadar kritik, tapi juga ada secuil harapan, DPR bisa mengubah nasib rakyat, yang saat itu (kini) sering dikalahkan. Tapi toh harapan itu tidak juga terwujud. Nah sekarang giliran Slank yang yang mempertanyakan sikap para anggota dewan, yang ujung-ujungnya selalu duit. Ketetapan hati Slank untuk sesekali keluar dari lagu-lagu cinta patut dipuji. Ditengah derasnya lagu mendayu, Slank bicara kegalauan rakyat, yang makin hari nyaris tak mampu berkata-kata,  menggambarkan ulah para pemimpinnya.

Jadi agak aneh bila lagu protes Slank dipermasalahkan, ditengah menggunungnya problema bangsa. Kenapa lagu ini  tidak dipersoalkan ketika dirilis tahun 2004, tapi menjadi masalah ketika KPK menggaet Slank sebagai duta anti korupsi dan menjadikan lagu Gosip jalanan sebagai tema kampanye? Sebuah gambaran  anggota dewan memang tidak pernah menyimak jerit  keresahan rakyat yang diwakilinya. Ketika lagu itu menjadi populer, baru kebakaran jenggot.

 Kita butuh para wakil yang punya nurani. Bukan wakil yang memperkaya dan menjual diri demi dolar dan rupiah, lupa pada sumpah, mengkhianati rakyat yang memilihnya.  Slank bernanyi untuk rakyat, wakilnya malah sewot.


Blog Entrynegeri tanpa logikaApr 22, '08 11:32 AM
for everyone

Rudy Soedjarwo emosi ketika ditanya logika film anyarnya Empat Puluh Hari Bangkitnya Pocong. Meski  langit Jakarta dipenghujung  Februari, mendung, suasana jumpa wartawan itu, berubah panas. Awalnya adalah pertanyaan dari pencari berita  soal banyak logika bolong dalam film tersebut. “Buat apa bicara logika di negeri ini. Lihat saja disekeliling Anda, Lampu merah  yang harusnya tanda berhenti, malah diterobos. Dilarang buang sampah, malah membuang sampah di tempat itu,” kata Rudy dengan suara menggelegar. Dan Rudy tak berhenti sampai disitu. Segudang bukti tak pentingnya logika bagi manusia Indonesia terus dipaparkan. Sutradara yang banyak dipuja para kritisi itu, emoh  disalahkan.               

Kelemahan-kelemahan di filmnya harus dimaklumi dan telan saja bulat-bulat. Rudy sosok penting menggeliatnya film nasional. Karyanya Ada Apa Dengan Cinta, dianggap sebagai titik bangkitnya film anak negeri. Apik dalam eksekusi, dan mengumpulkan penonton dalam jumlah fantastis.

            Rudy mungkin jenuh dan jengah. Di tiap peluncuran filmnya, pertanyaan itu terus ditanyakan padanya. Dan Rudy tak mencoba memperbaiki atau sekadar meminimalisasi kesalahan pada film sebelumnya dan memperbaikinya di karya berikutnya, hingga pertanyaan yang sama, tak lagi-lagi dipertanyakan. Maestro film Indonesia, mendiang Teguh Karya tak pernah berhenti belajar. Di sebuah rubrik film di Harian Pelita 12 Agustus 1978, dia menerangkan apa yang ingin dicapai dan pada tiap karyanya.   Di film pertamanya, Wajah Seorang Laki-Laki, digarap secara emosional, tanpa bekal teknis. Di film kedua, Cinta Pertama,  dia mengaku belajar sinematografi selama dua tahun. “Film ini adalah balas dendam saya terhadap teknik dan Pemasaran,” tulisnya.  Tak pernah berhenti belajar, dan kredo untuk terus kreatif seperti air yang hidup, selalu mencari jalan keluar jika dibendung,  menjadikan Teguh sosok istimewa dalam sejarah film kita.

            Pernyataan Rudy soal tak pentingnya  sebuah Logika dalam film, semoga terlontar karena  emosi sesaat. Perjalanan karier Rudy masih panjang. Masih banyak film-film lain yang tengah dirancang atau dibuatnya. Rudy mungkin  terlalu lelah memikirkan kondisi bangsa ini yang kian hari makin buruk. Dan Rudy, sebagaimana anggota masyarakat lainnya, menjadi apatis, menyerah pada keadaan.  Semua aspek hidup dan sosial kita kini, kadang sulit dijaring logika. Banyak hal di negeri ini yang tak pernah terselesaikan, atau penyelesaiannya membuat kita cuma bisa menggerutu. Kemacetan di ibukota, Banjir yang datang tiap musim hujan, yang disalahkan malah kontraktor pembersih selokan.  Jalan berlobang yang merenggut nyawa banyak orang, lumpur lapindo dianggap sebuah bencana ketimbang ketololan eksplorasi, atau Jaksa yang ditangkap terima suap setalah satu hari sebelumnya membebaskan terdakwa korupsi. Silahkan anda tambah sendiri deret tanpa logika itu, percayalah bakal membuat Anda takjub. Dan ini berdampak pada bidang lainnya, seperti di dunia film, sinteron, atau produk kesenian massal lainnya.

            Jika sikap Rudy seperti itu, dia kian memperburuk saja kondisi ini. Rudy juga ikut-ikutan buang sampah sembarangan, ketimbang membersihkan sampah, dan menerobos lampu merah. Ahhh negeri tanpa logika


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help