Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang terhormat panas telinganya. Lagu Slank Gosip Jalanan, dianggap tidak patut, dan dinilai mencoreng lembaga legislatif tersebut. Bahkan wakil ketua badan kehormatan DPR, Gayus Lumbuun kabarnya sudah siap menggugat. Langkah Gayus surut, ketika Rabu dinihari, anggota dewan dari fraksi Partai Persatuan, Al Amien Nasution, ketangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di sebuah hotel mewah di selatan Jakarta. Suami pedangdut Kristina itu, menerima duit puluhan juta dari sekretaris daerah Bintan Kepulauan Riau, guna memuluskan langkah pengalihan fungsi hutan lindung. Lagu Gosip Jalanan Slank pun menjadi kenyataan: Mau tau gak mafia di senayan? Kerjanya tukang buat peraturan Bikin UUD ujung-ujungnya duit. Bayangkan jika DPR jadi menggugat lagu band asal gang potlot tadi? Kian amblas saja akal sehat bangsa ini. Bagaimana mungkin wakil rakyat menggugat rakyat yang jelas- jelas diwakilinya. Para wakil yang seharusnya berfikir untuk mensejahterakan rakyat? dan tak bisa tidur jika pemerintah tak juga meningkatkan kualitas hidup ratusan juta penduduk Indonesia. Tapi kenyataannya? Jauh panggang dari Api.
Gayus menganggap Slank terlalu berlebihan dalam menggambarkan DPR, dia berharap kritik itu disampaikan dengan santun. Suara sumbang terhadap anggota dewan, sering menggedor gerbang Senayan. Dari kritik halus hingga kasar, tapi toh berita soal korupsi tak juga surut, malah kian menggila. Padahal baru saja kita dikejutkan dengan uang insentif dari bank Indonesia yang dikucurkan demi memfasilitasi aktifitas anggota dewan, berpelesir ke luar negeri, hingga biaya pengobatan, eh kini kita malah disodori kenyataan baru bobroknya mental kebangsaan anggota DPR, fungsi hutan lindung diperjualbelikan. Slank adalah orang kesekian yang mempertanyakan korps orang pilihan itu. Lantas masih kah harus santun, kalau kritik masuk kuping kanan keluar kuping kiri, dan nyaris tidak ada ada perbaikan?
Kritik memang sempat tabu di negeri ini. Sekumpulan kalimat yang mempertanyakan penyelenggaraan negara diberangus. Tapi tak sedikit yang nekat dengan sisa nurani yang ada, mempertanyakan hegemoni kekuasaan. Lirik bernada sindiran atau sarkasme dalam lagu, bukan barang baru. Tahun 1979, almarhum Mogi Darusman merilis album bertajuk Aje Gile. Salah satu lagunya yang bikin penguasa merah telinga adalah Rayap-rayap: Kau Tahu rayap-rayap, makin banyak di mana-mana.....Dibalik baju resmi, merongrong tiang negara. Mereka dengan tenang memakan kota dan desa.....Lagu itupun sempat tak boleh diperdengarkan lagi. Almarhum Harry Roesli, juga kerap pedas menyuarakan keresahan rakyat. Di hari kemerdekaan Indonesia yang ke 55 dia membuat lagu Sialan. Berbalut nada blues Harry bernyanyi: Sialan mau sekolah aja susah, katanya wajib belajar agar otak jadi pintar. Bagaimana bisa pintar kalu yang pintar nggak punya otak. Kita juga punya Iwan Fals, penyanyi balada yang begitu cerewet mempersoalkan ketidakadilan akibat penyelenggaraan negara yang melulu memikirkan kepentingan pribadi ketimbang rakyat. Tahun 1987 Iwan juga menyinggung lembaga legislatif melalui lagu Wakil Rakyat. Lagu itu lebih dari sekadar kritik, tapi juga ada secuil harapan, DPR bisa mengubah nasib rakyat, yang saat itu (kini) sering dikalahkan. Tapi toh harapan itu tidak juga terwujud. Nah sekarang giliran Slank yang yang mempertanyakan sikap para anggota dewan, yang ujung-ujungnya selalu duit. Ketetapan hati Slank untuk sesekali keluar dari lagu-lagu cinta patut dipuji. Ditengah derasnya lagu mendayu, Slank bicara kegalauan rakyat, yang makin hari nyaris tak mampu berkata-kata, menggambarkan ulah para pemimpinnya.
Jadi agak aneh bila lagu protes Slank dipermasalahkan, ditengah menggunungnya problema bangsa. Kenapa lagu ini tidak dipersoalkan ketika dirilis tahun 2004, tapi menjadi masalah ketika KPK menggaet Slank sebagai duta anti korupsi dan menjadikan lagu Gosip jalanan sebagai tema kampanye? Sebuah gambaran anggota dewan memang tidak pernah menyimak jerit keresahan rakyat yang diwakilinya. Ketika lagu itu menjadi populer, baru kebakaran jenggot.
Kita butuh para wakil yang punya nurani. Bukan wakil yang memperkaya dan menjual diri demi dolar dan rupiah, lupa pada sumpah, mengkhianati rakyat yang memilihnya. Slank bernanyi untuk rakyat, wakilnya malah sewot.