Oh oh...
Lagu cinta melulu
Kita memang benar-benar melayu
Suka mendayu-dayu
Apa memang karena kuping melayu
Suka yang sendu-sendu
Lagu cinta melulu
(Cinta Melulu-Efek Rumah Kaca)
Dunia musik negeri ini, disesaki lagu mengharu biru. Harmoni yang mendayu dan larik-lirik berkutat pada pahit, manis, getir cinta. Para pengusung gaya musik ini, cepat meroket. Dari Drive, Republik, Kerispatih, Kangen dan banyak band lainnya, dengan lagu yang sama melenakan para pendengarnya. Selama masih laku, industri musik pun mematok band atau solis binaannya agar tak lari dari tema tersebut. Makanya bila ada band atau solois lain yang mampu merangkai kata lebih dahsyat lagi soal cinta, band lama dilupakan. Tak bisa dibantah sepanjang tahun 2007, perkembangan industri musik kita cukup mencengangkan. Memang mempesona tapi menjemukan. Makanya ketika mendengar lagu Cinta Melulu dari band bernama Efek Rumah Kaca, kesadaran saya terusik. Paling tidak kelompok musik yang keberdaannya sulit dilacak itu, merasakan kegelisahan yang sama: miskinnya tema lagu-lagu anak negeri.
Pada awal munculnya, The Beatles juga beranjak dari cinta. Dan liriknya tak lebih dari You, Me, And I. Namun seiring bertambah umur mereka, John cs mencoba lebih menyerap apa yang sedang terjadi di sekelilingnya. Mencoba mengeksplorasi tak hanya lirik tapi juga bunyi. George Harisson bahkan mencari bebunyian hingga ke Timur, menggali kebijakan-kebijakan yang terserak di sana. Setelah meninggalkan era cinta, Beatles pun kian berkibar.
Padi mencoba dewasa setelah album kedua. Tapi justru ditinggalkan pemujanya. Pejualan album tersebut, tak sebaik yang pertama. Piyu pernah berkata pada saya, sang produser memintanya kembali mendayu. Bahkan kalau bisa mirip Samsons. “Gue bingung,” katanya sambil menenggak minuman ringan di salah satu kafe di Jakarta.
Pertemuan itu tiga tahun lalu. Saya pernah berharap, Piyu bisa bertahan pada idealisme. Aplagi dia mencoba membentuk pasar baru, meninggalkan pasar yang sesak dengan irama pelet yang membuai gendang telinga. Tapi harapan saya buyar, ketika dia menjadi produser Drive. Namun di album barunya Piyu cs berusaha membayar dengan tak berkutat pada tema cinta.
Iwan Fals pun ikut arus. Musisi yang pernah menjadi favorit banyak orang. Wakil dari suara yang terpinggirkan. Musisi yang bisa merasakan denyut kegelisahan sekelilingnya. Musica Studios, tempat Iwan bernaung juga membaca arah angin. Jika Iwan masih berkutat pada lirik sosial, kemungkinan bisa gagal. Makanya Iwan ikut terjebak dalam kubangan cinta, rumitnya asmara sepasang kekasih. Bukan Iwan tak pernah bikin lagu cinta, dia justru luar biasa dalam tema seperti ini. Termasuk albumnya yang begitu manis saat berkolaborasi dengan Agus AA di era 80-an. Tapi itu untuk menghindari represi kritik dalam berbagai bentuk. Atau jangan-jangan kepekaan Iwan mulai tumpul?
Dia kini sudah begitu mapan. Mungkin kegelisahan telah meninggalkannya, atau imaji-imaji lasak tak lagi bersemayam? Untung Iwan masih peduli, dia menjadi duta lingkungan. Tapi yang amat disayangkan, lagu yang dijadikan tajuk kampanye lingkungan tersebut: “Ini Bukan Mimpi, karya orang lain.
Iwan memang tidak lagi mengendarai Chevrolet bututnya, tapi mobil Eropa yang begitu nyaman. Tidak lagi merasakan lubang di jalan, keringat yang membasahi tubuh karena macet yang menggila. Rumahnya di Leuwinanggung begitu besar dan nyaman.
Iwan pernah begitu merindukan Rendra, saat Si Burung Merak tak lagi berteriak pada ketidakadilan dan kejamnya pembangunan memberangus jiwa-jiwa merdeka. Iwan menyentil Rendra di lagu bertajuk Willy, salah satu syairnya berbunyi, Si anjing liar dari Jogjakarta, apa kabar mu. Kini kerinduan yang sama menyergap saya Si anjing liar dari Leuwinanggung, apa kabar mu?
Semua orang pernah merasakan jatuh cinta, diselingkuhi, hingga patah hati yang begitu menyiksa. Tapi toh hidup tak cuma itu. Lagu-lagu sekarang, nyaris tak lagi mampu merekam apa yang tengah dirasakan masyarakatnya. Atau memang ini potret penikmat musik di negeri ini? Yang tak juga pekak pada elegi cinta dan perselingkuhan. Lagu Efek Rumah Kaca lagi-lagi mengalun: Nada-nada yang minor, lagu perselingkuhan, atas nama pasar semuanya begitu klise, elegi patah hati, ode pengusir rindu, atas nama pasar semuanya begitu banal.