Hidup kian mencekik batang leher. Harga kebutuhan pokok membumbung tinggi. Minyak tanah, gas, kedelai, menjadi barang langka. Dampak sosialnya sungguh mencengangkan. Salah satu koran harian terbitan Jakarta, beberapa hari lalu memuat berita makin banyaknya orang stress. Rumah penampungan sakit jiwa di Bekasi, kewalahan menerima banyaknya orang tak waras. Dan yang bikin miris bukan di mana anakku, di mana anakku yang diocehkan, tapi tempe makin mahal, tempe makin mahal.
Dampak sosial akibat melambungnya harga-harga kebutuhan bahan pokok bakal lebih panjang lagi. Tapi di tengah ketidakpastian hidup dan carut marutnya ekonomi, ada juga kabar baik. Paling tidak menjadi penawar atau pelarian dari segunung masalah yang kini melilit kita.
Lagu-lagu cinta menjulang, sinetron-sinetron penjual mimpi tambah gemuk ratingnya, dan terakhir adalah fenomena film Ayat-ayat Cinta (AAC). Hingga kini tak kunjung habis dibicarakan. Dari rekor jumlah penonton dan keuntungan yang diraupnya. Produser AAC Manoj Punjabi, sudah berencana untuk membuat versi panjang film itu, dengan menambah adegan-adegan penting yang terlewatkan dari novel Habiburrahman El-Shirazy itu.
Tak hanya warga biasa yang menonton AAC di gedung bioskop. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), mantan Presiden BJ Habibie dan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga terpikat dengan AAC. Bahkan presiden kita tercinta, mengajak 80 duta besar nonton bersamanya. Mungkin SBY bangga, ada anak negeri yang mampu membuat film sebagus itu. Bukan kebiasaan Pak Presiden menonton film. Apalagi nonton AAC setelah wakil presiden menjejakkan kaki di karpet merah gedung bioskop beberapa hari sebelumnya. Mungkin SBY tertarik promosi JK, atau saking populernya film ini, serasa nggak enak bagi presiden tidak ikut nonton, hingga kesannya kurang up to date. Tapi bisa juga SBY merasa wajib nonton, karena takut dianggap tidak mengapresiasi film selaris dan paling fenomenal buatan Indonesia di awal tahun 2008 ini.
Di masa duet kepemimpinan JK dan SBY ada beberapa film yang juga cukup fenomenal dan dipuja banyak kritisi, seperti Naga Bonar Jadi 2. Film ini dianggap sukses karena menyampaikan pesan moral dan kritik pada penguasa, meski kritik yang disampaikan tak telak sebagaimana Naga Bonar 1. Tak ada para petinggi negara yang hadir, kecuali Gubernur DKI yang saat itu dijabat oleh Sutiyoso. Naga Bonar jadi 2 bertahan lama di jaringan bioskop. Mungkin saat itu, tugas kepresidenan sedang penuh, dan kondisi rakyat tengah merihatinkan. Sementara di tahun 2008 agak longgar.
SBY memang memiliki jiwa seni tinggi. Sebelum menjadi presiden, SBY sudah memperdengarkan kemerduan vokalnya lewat lagu andalan grup Jamrud, Pelangi di Matamu. Setelah menjabat presiden, jiwa senianya kian menggelagak. SBY menciptakan lagu dan lirik. Hasilnya sebuah album. Lagu-lagu ciptaan orang nomor satu republik ini diberi judul Rinduku Padamu yang terdiri atas 10 lagu termasuk di antaranya lagu berjudul Rinduku Padamu yang dinyanyikan oleh Ketua Pappri Dharma Oratmangun, Kasih (Gee Foregia), Mengarungi Keberkahan Tuhan (Ebiet G Ade), Hening (Widi Mulia), Selamat Berjuang (Dea Mirella), Kawan (Kerispatih), Mentari Bersinar (Seno Haryo).
Tak sampai di situ, parade senja pun kembali dihidupkan. Penurunan bendera merah putih di Istana Negara saat matahari tergelincir di barat. Tapi kali ini ada nilai hiburan yang dijunjung dalam rentetan acara itu, antara lain dilantunkannya karya-karya SBY, serta menghadirkan artis-artis top ibukota.
Rakyat memang butuh hiburan, sejenak melupakan lapar yang menggerogoti lambung, uang yang tak lagi cukup untuk menghidupi keluarga sehari-hari dan mimpi-mimpi yang tak lagi nyaris terbeli. Menyanyi menyehatkan jiwa, tapi lapar menyiksa tak bisa disembuhkan dengan nyanyian, semerdu apapun dan sebagus apapun liriknya.
Perut lapar ya makan. Haus ya minum. Mahatma Gandhi, pemimpin kharismatik India pernah mengucap soal pemimpin yang baik di matanya: I suppose leadership at one time meant muscles; but today it means getting along with people. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berdiri bersama rakyatnya. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang merasakan kesulitan dan kepedihan rakyatnya.